Salah satu kesenian tradisional yang hidup di
Desa Wana adalah Tari Melinting. Di lihat dari sejarahnya, tarian ini
merupakan tari adat tradisional Keagungan Keratuan Melinting yang
diciptakan oleh Ratu Melinting yaitu Pangeran Panembahan Mas, yang
dipentaskan pada saat acara Gawi Adat (Betawi). Tari Melinting ini
merupakan tari tradisional lepas untuk hiburan pelengkap pada saat acara
Gawi Adat.
Fungsi Tari
Melinting dahulu merupakan tarian Keluarga Ratu Melinting dan hanya
dipentaskan oleh Keluarga Ratu saja ditempat yang tertutup (sessat atau
balai adat), tidak boleh diperagakan oleh sembarang orang. Pementasannya
pun hanya pada saat Gawi Adat Keagungan Keratuan Melinting saja.
Personal penarinya pun hanya sebatas pada putra putrid Ratu Melinting.
Namun,
dalam perkembangannya sekarang tari melinting tidak lagi mutlak sebagai
tarian keluarga Ratu Melinting dan tidak lagi berfungsi sebagai tari
upacara tetapi sudah bergeser menjadi tari pertunjukan atau tontonan
pada saat penyambutan tamu-tamu agung yang datang ke daerah Lampung
serta acara-acara besar lainnya seperti acara kesenian Lampung, Festival
Tari dan lain-lain. Baru-baru ini yaitu pada Bulan April 2007 yang lalu
Tari Melinting dipentaskan secara masal terdiri dari 25 pasang penari
dalam upacara penutupan Musyabaqoh Tilawatil Quran tingkat Provinsi
Lampung yang dilaksanakan di Pusat Kegiatan Olah Raga Way Halim Bandar
Lampung. Hal ini berarti juga bahwa Tari Melinting sudah tersebar luas
di Provinsi Lampung.
Berikut
ini secara sekilas akan digambarkan bentuk penyajian Tari Melinting.
Menurut Sudarsono, bentuk penyajian adalah wujud tarian secara
keseluruhan yang dipertunjukkan dengan melibatkan elemen-elemen dalam
komposisi tari. Adapun elemen-elemen tersebut adalah elemen gerak,
iringan (musik), tat arias, busana, tempat pertunjukan, dan property.
Gerak,
Elemen gerak merupakan salah satu unsure poko dalam tari. Gerak dalam
tari terwujud setelah anggota-anggota badan manusia yang telah terbentuk
digerakkan. Gerak merupakan substansi dari tari. Namun, tidak semua
gerak bisa disebut sebagai tari. Hanya gerak yang sudah mengalami
penggarapan, pemiliki makna dan nilai estetis, yang dapat disebut
sebagai gerak tari.
Menurut
Lentuk geraknya terdapat dua jenis gerak, yaitu gerak murni dan gerak
maknawi. Gerak murni adalah gerak yang digarap sekedar untuk mendapatkan
bentuk artistic dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan sesuatu.
Gerak maknawi adalah gerak yang mengandung arti yang jelas dan sudah
mengalami setilisasi atau distorsi. Gerak murni banyak digunakan dalam
garapan tari yang non representasional, sedangkan gerakan maknawi banyak
terdapat dalam garapan tari yang representasional, namun dengan tidak
menutup kemungkinan masuknya gerak murni.
Gerak
dalam tari Melinting adalah gerak gerak maknawi, yaitu setiap gerakan
mempunyai maksud atau makna. Pada adegan pembukaan, makna gerak adalah
bahwa putra dan putri punyimbang melakukan penghormatan kepada para
punyimbang/tamu agung. Pada adegan kugawo Ratu, makna gerak adalah
melambangkan keperkasaan putra putri punyimbang. Pada adegan knui
melayang, keagungan dan kelemah lembutan punyimbang ungkapan keleluasaan
berpendapat/bersikap. Pada adegan penutup, makna gerak adalah bahwa
putra putrid punyimbang penghormatan pada punyimbang.
Gerakan
yang dipakai pada tari Melinting dibedakan antara gerakan penari putra
dan putrid meliputi : babar kipas, jong sumbah, sukhung, sekapan balik
palau, kenui melayang nyiduk, salaman, suali, niti batang, luncat
kijang, dan lapah ayun.
Gerak
penari putrid meliputi babar kipas, jong sumbah, sukhung, sekapan,
timbangan/ terpipih mabel melayang, ngiyau bias, nginjak lado, nginjak
tahi manuk, lapah ayun.
Musik
atau iringan. Elemen iringan (musik) dalam tari bukan hanya sekedar
iringan, karena musik merupakan patner yang tidak dapat ditinggalkan.
Oleh karena itu musik yang dipegunakan untuk mengiringi tari harus
digarap betul-betul sesuai dengan garapan tarinya. Dalam hubungannya
dengan seni tari, pada umunya iringan berfungsi sebagai penguat atau
pembentuk suasana. Iringan dibagi dua macam, yaitu musik internal dan
musik eksternal. Musik internal adalah musik yang bersumber dari diri
penari, misalnya suara yang ditimbulkan dari tepukkan tangan, vokal
penari, dan hentakan kaki penari. Sedankan musik eksternal adalah musik
yang berasal dari alat musik instrumental, misalnya piano, gitar dan
gamelan.
Fungsi musik ada
tiga, yaitu sebagai pengiring, pemberi suasana, dan ilustrasi. Sebagai
pengiring tari, bearti peranan musik hanya mengiringi atau menunjang
penampilan tari. Fungsi musik sebagai pemberi suasana berarti musik
dipakai untuk membantu suasana adegan dalam tari. Sedangkan fungsi musik
ilustrasi hanya berfungsi sebagai pengiring.
Iringan
pada tari Melinting adalah iringan atau musik eksternal nama
seperangkat instrument yang digunakan adalan kalo bala (kelittang).
Jenis tabuhan yang digunakan adalah tabuh harus pada adegan penbukaan,
tabuh cetik pada adegan punggawo ratu, tabuh kedangdung pada adegan
mulai batangan, tabuh kedangdung pada adegan knui melayang, dan tabuh
arus pada adegan penutup.
Tata rias.
Tata
rias adalah seni menggunakan bahan-bahan kosmetik untuk mewujudkan
wajah peranan. Fungsi rias adalah memberikan bantuan dengan jalan
memberikan dandanan atau perubahan pada pemain hingga berbentuk suasana
yang cocok dan wajar.
Bagi
seorang penari, rias merupakan hal yang sangat penting. Pemakaian tata
rias yang digunakan untuk pertunjukkan akan berbeda dengan tatarias
sehari-hari. Tata rias yang dipakai sehari-hari pemakaiannya cukup tipis
dan tidak memerlukan garis-garis kuat pada bagian wajah. Sedangkan
untuk tat arias pertunjukkan tari, segala sesuatu diharapkan lebih jelas
dan lebih tebal hal ini penting sekali dalm pertunjukkan tari, karena
untuk memperkuat garis-garis ekspresi dan menambah daya tarik
pemampilan. Maka tata rias merupakan hal penting dalam pertunjukkan tari
karena membantu penari untuk membedakan karakter.
Tata
rias yang digunakan penari putrid dalam tari Melinting adalah rias
cantik. Pada prinsipnya rias wajah pada tari Melinting adalah untuk
membuat wajah cerah dan terlihat cantik, sementara untuk penari putera
hanya menggunakan bedak untuk alas dari rias wajah.
Tata busana.
Busana
tari tidak sama dengan pakaian sehari-hari. Fungsi fisik busana adalah
sebagai penutup dan pelindung tubuh, sedangtkan fungsi sttiknya
merupakan unsure keindahan dan keserasian bagi tubuh penari.
Fungsi
busana juga tidak jauh berbeda dengan tata rias, yaitu mendukung tema
atas isi dan memperjelas peranan-peranan dalam suatu sajian tari. Dalam
perkembangannya, pakaian tari telah disesuaikan dengan kebutuhan tari
tersebut. Busana tari yang baik tidak hanya sekedar untuk menutup tubuh
semata, melainkan juga harus dapat mendukung penampilan tari. Busana
tari dipergunakan untuk melukiskan sesuatu oleh penciptanya dan dipakai
oleh penarinya dan tidak terlepas pemilihan nilai terhadap warna, garis
dan bentuk. Maka, tata busana selain untuk memperkuat peranan, pemilihan
warna, garis dan bentuk, juga bias mendalami kejiwaan seni tari, serta
akan memberi suasana yang dimaksudkan.
Dalam
tari Melinting, busana yang digunakan penari putrid adalah siger
bercadar bunga pandan Subang, kalung buah jukum, gelang kano, bulu
seretei, gelang rui sesapurhanda, tapis, dan jungsarat. Adapun busana
penari putra adalah kopiah emas, kembang melur bunga pandan, buah jukum,
jungsarat, papan jajar, bulu seretei, sesapur handap, injang tuppal,
celana reluk belanga, lengan tanpa aksesoris, dan telapak kaki tanpa
alas dan kaos kaki.
Tempat pertunjukkan.
Tempat
pertukkan adalah tempat yang digunakan untuk mempergelarkan suatu
pertunjukkan atau pementasan. Tempat pertujukkan dapat berupa panggung
proscenium, yaitu tempat pertunjukkan yang hanya dapat dilihat satu arah
atau dari depan. Adapun bentuk-bentuk arena pertunjukkan antara lain
arena sentral, tapal kuda, dan setengah lingkaran (arena terbuka).
Tempat
pertunjukkan yang berbentuk arena sentral biasanya tempat yang
digunakan untuk pentas yang berada ditengah penonton. Pada tempat pentas
bentuk tapak kuda, penonton berada di depan, serta di samping kanan dan
kiri tempat pertunjukkan. Adapun bentuk setengah lingkaran (arena
terbuka), antara penonto dengan tempat pertunjukkan biasanya disekat
oleh pembatas.
Tari
Melinting dipentaskan di tempat upacara adat yang sedang berlangsung
atau bisa juga di tempat pertunjukkan lainnya, baik berupa panggung
proscenium, arena sentral, tapal kuda maupun setengah lingkaran.
Properti.
Properti
adalah perlengkapan yang tidak termasuk kostum dan perlengkapan
panggung, tetapi merupakan perlengkapan yang ikut ditarikan oleh penari.
Property adalah semua peralatan yang dipergunakan untu kebutuhan suatu
penampilan tataan tari atau koreografi. Propreti adalah alat-alat yang
dibawa dan digunakan penari sebagai pelengkap sesuai tuntutan tari
tersebut.
Properti yang digunakan oleh penari putrid dan putra pada tari Melinting adalah kipas yang dipegang di kiri kanan tangan penari.
Untuk
uraian lebih rinci mengenai tari Melinting yang meliputi makna tari,
urutan penyajian tari, uraian ragam gerak penari putra dan penari
putrid, jumlah hitungan, dan pola lantai dapat dilihat pada bagian
lampiran yang merupakan Deskripsi Tari Melinting yang disusun oleh Taman
Budaya Provinsi Lampung.